Bersikap lembut terhadap sesama

Aku merasa aneh. Pelajaran untuk berakhlak mulia tidak hanya dipelajari satu dua orang saja. Akar pelajaran ini adalah Al-Qur’an dan Al-Hadith yang disampaikan nabi kesayangan dan kebanggan kita semua. Berulang-ulang, pelajaran untuk berakhlak mulia berdengung di telinga muslim di seluruh jagat. Sayangnya, sebagai manusia kita ini selau dihinggapi penyakit lupa. Kita sering tidak bisa bersikap lembut pada diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.

Hambatan untuk bersikap lembut terhadap sesama adalah:

  1. Ego dan nafsu yang berkuasa di dada dan hidup kita.
  2. Kekuasaan yang kebetulan kita nikmati.
  3. Kekayaan yang menjadi rejeki tanpa disyukuri.
  4. Ilmu yang tidak membawa manfaat.
  5. Iman dan taqwa yang luntur.

 

 

Al Birru Manittaqo

Kebaikan banyak dikejar orang. Maksudnya, manusia hidup berkeinginan untuk mendapatkan yang baik-baik saja. Hampir tidak ada orang yang ingin mendapatkan kesusahan dalam hidupnya. Sementara itu, apa yang dimaksud dengan kebaikan? Albirru manittaqo adalah filsafat kebaikan dalam Islam yang dituliskan di dalam Al-Qur’an. Kebaikan bisa muncul bagi mereka yang bertaqwa. Inilah nilai yang tidak bisa kita lepaskan.

Kita wajib ingat dan saling mengingatkan. Ada sebuah buku, La Tahzan, adalah buku penuh yang inspiratif.

Menjaga Hati, Menjaga Iman

Manusia memiliki organ tubuh yang penting–hati. Nabi Muhammad SAW sendiri mengakui pentingnya organ tubuh yang satu ini. Dari sinilah nilai kepribadian manusia ditentukan oleh baik atau buruknya nilai hatinya.  Apabila manusia mau menjaga hati agar tidak kotor dari kotoran-kotoran hati berupa kemaksiatan, kemunafikan, kefasikan, kekafiran dan kemusyrikan maka mereka bisa selamat hidupnya di dunia dan akhirat. Sementara itu, manusia akan mengalami masa hidup yang kelam apabila hati dan pikirannya tidak bisa bersih dari sifat-sifat yang menghinakan itu.

Berusaha menjaga hati sama artinya berusaha untuk mempertahankan iman.